Wednesday, November 12, 2014

Cerita Sang Murabbi

credit to Syazwan Syahril

Aku rindu zaman ketika halaqah adalah keperluan, bukan sekadar sambilan apa lagi hiburan …
Aku rindu zaman ketika mabit(Malam Bina Iman dan Takwa) adalah kewajipan bukan pilihan apa lagi beban dan paksaan …
Aku rindu zaman ketika daurah menjadi kebiasaan, bukan sekadar pelangkap pengisi program yang dipaksakan …
Aku rindu zaman ketika tsiqah menjadi kekuatan, bukan keraguan apa lagi kecurigaan …
Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan, bukan tuntutan, hujatan dan suruhan….
Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan bukan su’udzon atau menjatuhkan …
Aku rindu zaman ketika kita semua memberikan segalanya untuk da’wah ini …
Aku Rindu zaman ketika nasyid ghuroba menjadi lagu kebangsaan…
Aku rindu zaman ketika hadir liqo adalah kerinduan dan terlambat adalah kelalaian …
Aku rindu zaman ketika malam gerimis pergi ke puncak mengisi daurah dengan duit yang sedikit dan peta yang tidak jelas …
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah benar-benar berjalan kaki 2 jam di malam buta sepulang tabligh da’wah di desa sebelah …
Aku rindu zaman ketika pergi liqo selalu membawa infaq, alat tulis, buku catatan dan qur’an terjemah ditambah sedikit hafalan …
Aku rindu zaman ketika ada yang menangis kerana tak bisa hadir di liqo …
Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu diketuk untuk mendapat berita kumpul di subuh harinya …
Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah berangkat liqo dengan ongkos jatah belanja esok hari untuk keluarganya …
Aku rindu zaman ketika seorang murobbi sakit dan harus dirawat, para ahli gerakan mengumpulkan dana apa adanya …
Aku rindu zaman itu …
Ya Rabb …
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami …
Ya Rabb …
Berikanlah kami keistiqamahan di jalan da’wah ini …
-"Sang Murabbi" KH Rahmat Abdullah.

No comments:

A Letter to My Deceased Cat

Hi Kunyet, I hope you're doing fine over there. We just found out that you're no more with us this morning. No longer meowing e...